Lamandel diresepkan dokter

Kecenderungan untuk kembali ke alam memang sangat menggejala beberapa dekade terakhir ini. Hal tersebut tidak saja berlaku di Indonesia atau negara-negara Asia lainnya, namun juga di negara-negara Eropa dan Amerika. Pengobatan menggunakan obat-obat alam semakin banyak peminatnya. Menurut data yang dikeluarkan oleh Sekretariat CBD (Convention on Biological Diversity) penjualan obat alam pada tahun 2000 mencapai US$ 60.000 juta (enam puluh ribu juta dolar Amerika), suatu jumlah yang cukup banyak.
Dan sekitar 25% dari pasar obat alam itu ada di negara-negara maju, yaitu Kanada, Amerika Serikat, Australia dan negara-negara Eropa. Dokter-dokter di negara-negara tersebut bahkan sudah biasa menuliskan resep obat herbal untuk pasien-pasiennya, dalam hal ini mungkin mereka lebih maju dari pada kita. National Institute of Health, yaitu Departemen Kesehatannya Amerika Serikat, sejak tahun 1995 telah merekomendasikan masuknya materi tentang pengobatan alternatif dan komplementer dalam kurikulum fakultas kedokteran. Dan survey yang dilakukan pada tahun 1998 menunjukkan bahwa 60% sekolah kedokteran di Amerika Serikat telah menawarkan materi tentang pengobatan tradisional atau pengobatan alternatif dalam kurikulumnya. Jadi sebenarnya, cerita bahwa obat dan pengobatan tradisional bukan merupakan salah satu materi yang dibicarakan dalam kedokteran Barat sudah lama berlalu.
Mudah-mudahan tak lama lagi materi obat dan pengobatan alami atau obat tradisional juga dapat masuk ke dalam kurikulum fakultas kedokteran di Indonesia. Jamu dan fitofarmaka, kedua-duanya merupakan obat alam. Sebagaimana yang kita ketahui, obat alam adalah istilah yang sering digunakan untuk jenis-jenis obat yang bahan-bahan bakunya langsung diperoleh dari alam, jadi bukan dan tidak boleh menggunakan obat-obat kimia sintetik. Jika bahan-bahan obat alam tersebut berasal dari tumbuh-tumbuhan, maka disebut obat herbal atau herbal medicine. Untuk kita ketahui, walaupun tidak sebanyak yang berasal dari tumbuhan, obat alam juga ada yang berasal dari hewan, misalnya dari kuda laut, berbagai jenis reptil, berbagai jenis serangga maupun bagian-bagian tubuh mamalia serta hewan-hewan lainnya.
Di Indonesia saat ini dikembangkan 3 skema obat alam, yaitu kelompok obat alam yang selama ini kita kenal sebagai jamu, kelompok obat alam yang merupakan produk dari ekstrak yang telah distandardisasi dan kelompok fitofarmaka. Jadi, jamu berbeda dengan fitofarmaka, walaupun sama-sama merupakan obat herbal. Istilah fitofarmaka sebenarnya belum secara resmi disebutkan dalam peraturan perundang-undangan kita saat ini. Namun secara umum yang dimaksudkan dengan fitofarmaka menurut 3 skema obat alam tadi adalah obat-obat alam yang sudah lulus melalui uji klinis. Jadi, jaminan efikasi (kemanjuran) dan keamanannya sudah dapat dianggap setara dengan obat-obat konvensional lainnya.
Semua obat dan makanan termasuk suplemen makanan, obat tradisional dan kosmetik yang diizinkan beredar oleh BPOM tentu boleh diresepkan oleh dokter, asal dokter tersebut menganggapnya perlu. Masalahnya justru di negara kita ini memang belum banyak dokter yang terbiasa meresepkan jamu atau fitofarmaka sebagaimana yang biasa dilakukan oleh dokter-dokter di Cina, Jerman dan negara-negara maju lainnya. Alasan utama yang biasa diajukan adalah kurangnya data ilmiah yang mendukung penggunaan obat alam tersebut. Memang harus kita akui, sampai saat ini masih sangat sedikit jamu yang mempunyai data pengujian ilmiah, baik uji praklinik apalagi uji klinik. Ini memang merupakan tantangan bagi kita semua. Mudah-mudahan tak lama lagi data ini dapat tersedia agar kita tak ragu-ragu untuk menggunakan obat alam yang sangat melimpah bahan bakunya di negara kita yang kaya raya alamnya ini.
Lamandel kini telah menjadi pilihan dan alternatif bagi para dokter, maupun tenaga medis untuk mengatasi radang amandel dan radang tenggorokan. Lamandel telah terdaftar di BPOM dan halal dari MUI. Beberapa dokter telah meresepkan lamandel sebagai bagian dari pengobatan pasiennya. Semoga hadirnya lamandel dapat memberikan alternatif pengobatan yang aman, alami, dan terjangkau

Pengobatan Amandel : Mestikah Dioperasi?

Amandel atau pembesaran tonsil seringkali menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua. Pasalnya, selain sering kambuh, yang ditandai dengan demam, juga orang tua kadang-kadang mendapat ‘saran’ dari tetangga atau sahabat atau keluarga bahwa amandel anaknya harus dioperasi.

Walaupun operasi tonsil relatif lebih ringan (meskipun harus bius umum) dan lebih singkat (kurang lebih 30 – 60 menit dalam keadaan normal), tetap saja menjadi beban pikiran dan beban biaya bagi orang tua. Apalagi bagi yang membiayai sendiri perawatan kesehatannya alias non asuransi.
Kabar baiknya, tidak semua amandel harus dioperasi. Hanya sebagian kecil yang dianjurkan dioperasi, itupun jika memenuhi kriteria untuk operasi.
Menurut American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery (Ardyanto, 2006; ENTUSA, 2000), kriteria operasi amandel terbagi dua, yaitu kriteria mutlak operasi dan kriteria relatif (dipertimbangkan).
Kriteria mutlak operasi antara lain :

  • Pembesaran tonsil menyebabkan sumbatan jalan napas, sulit menelan, gangguan tidur (sleep apnea), atau menyebabkan komplikasi jantung dan paru-paru (akibat infeksi bakteri streptococcus).
  • Ada bisul ukuran besar di daerah sekitar tonsil yang tidak bisa diobati dengan pengobatan atau drainage (pengaliran nanah).
  • Peradangan tonsil yang mencetuskan kejang demam.
  • Keadaan tonsil sedemikian rupa sehingga perlu dilakukan pemeriksaan jaringan tonsil (biopsi untuk pemeriksaan patologi).

Sedangkan kriteria relatif operasi adalah :

  • Infeksi tonsil sedikitnya 7 kali dalam setahun, atau 5 kali dalam setahun selama 2 tahun berturut-turut, atau 3 kali dalam setahun selama 3 tahun berturut-turut meskipun sudah diobati dengan benar.
  • Bau mulut atau nafas yang terus menerus akibat infeksi tonsil kronis yang tidak membaik walaupun sudah diobati.
  • Infeksi tonsil kronis atau sering kambuh oleh bakteri streptococcus yang sudah tidak mempan lagi terhadap antibiotika beta-laktamase.
  • Salah satu tonsil lebih besar daripada tonsil sebelahnya dan dicurigai sebagai tumor atau kanker.

Referensi :

  1. wartamedika.com
  2. Ardyanto TD (2006): Kapan Operasi Amandel? http://tonangardyanto.blogspot.com
  3. ENTUSA (2000): Clinical Indications for Tonsillectomy & Adenoidectomy. www.entusa.com
Artikel terkait :

Video operasi amandel
Radang tenggorokan tuntas

Penyebab, gejala, dan pencegahan radang amandel

Radang tenggorokan tuntas juga…

Sudah tidak pernah kerumah sakit lagi.
Sudah 3 bulan yang lalu saya order lamandel secara online. Alhamdulillah radang amandel anak saya bisa sehat kembali. Dulu hampir tiap bulan saya harus ke rumah sakit karena anak saya demam. Sekarang amandel anak saya sudah tidak pernah kambuh lagi. Mau operasi tidak jadi. Minggu ini anak balita saya mulai bersin-bersin, stok lamandel sudah habis. Jadi harus order lagi nih. Ditunggu kirimannya ya.
(Pak Erwin Batam)
Radang tenggorokan sembuh juga
2 minggu ini mulai sering hujan, angin juga kenceng, badan jadi kurang fit.
Tidak sengaja coba-coba minum lamandel, eh bangun tidur tenggorokan plong.
Radang tenggorokan yang kemaren sudah lupa. Lamandel memang manjur tidak hanya untuk radang amandel, radang tenggorokan untuk dewasa juga cocok.
(Pak Totok, Bekasi)
Solusi alami radang amandel
Beberapa bulan yang lalu saya dapat informasi tentang pengobatan
radang amandel di koran. Awalnya ragu, karena umur anak saya masih
3 tahun. Setelah kontak hotline ternyata bisa untuk batita juga, akhinya saya
coba order 2 botol. Alhamdulillah setelah minum herbal lamandel 1 minggu kondisi anak sudah baik, nafsu makan juga sudah kembali
(ibu Erna, Taman Mini, Jaktim)
mau beli lamandel?
cek saja di apotik
atau di agen kami
atau beli online